Mereka
berusaha rajin masuk kuliah serta mengerjakan tugas-tugas dan makalah agar
menjamin kelulusannya di dunia, sementara untuk ujian yang paling besar (ujian
akhirat), mereka merasa puas dengan batas minimal dan berani mengambil resiko.
Ujian dunia bisa dususul di waktu-waktu mendatang. Namun, untuk ujian akhirat,
bukankah tak ada kesempatan dua kali untuk perbaikan nilai setelah tampak hasilnya?
Karena itu, selayaknya kita bersungguh-sungguh dan bekerja keras demi akhirat. Allah berfirman:
“Supaya jangan ada orang yang mengatakan: "AMAT BESAR PENYESALANKU ATAS KELALAIANKU dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah ), atau supaya jangan ada yang berkata: 'Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa', atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab, 'Kalau SEKIRANYA AKU DAPAT KEMBALI (KE DUNIA), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik'.” (Q.S. Az-Zumar: 56-58)
Karena itu, selayaknya kita bersungguh-sungguh dan bekerja keras demi akhirat. Allah berfirman:
“Supaya jangan ada orang yang mengatakan: "AMAT BESAR PENYESALANKU ATAS KELALAIANKU dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah ), atau supaya jangan ada yang berkata: 'Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa', atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab, 'Kalau SEKIRANYA AKU DAPAT KEMBALI (KE DUNIA), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik'.” (Q.S. Az-Zumar: 56-58)




